Niswah.net - Allah menciptakan manusia dengan akal dan hawa nafsu, serta tidak membiarkannya begitu saja. Allah memberikan wahyu agar mendapatkan hidayah, mampu membimbing nafsunya, dan melakukan ketaatan kepada-Nya.
Hawa Nafsu Versus Akal
Akal dan nafsu tidak pernah berhenti berseteru pada diri manusia. Peta kekuatan keduanya berbeda tiap orang. Bahkan, kondisinya silih berganti dari waktu ke waktu.
Abu Darda radhiyallahu 'anhu berkata, "Jika pagi hari tiba, berkumpul hawa nafsu, amal dan ilmu (akal) manusia. Kalau dia berbuat mengikuti hawa nafsu, maka hari itu adalah hari yang buruk baginya. Dan jika dia berbuat dengan mengikuti ilmunya, maka hari itu adalah hari yang baik baginya."
Pengertian Wahyu, Akal, dan Nafsu
A. Wahyu
Secara bahasa, wahyu berarti isyarat yang cepat, bisikan, atau petunjuk tersembunyi.
Menurut istilah syariat, wahyu adalah kalam atau petunjuk dari Allah SWT yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup manusia.
Kedudukan wahyu yaitu pembimbing dan penentu standar kebenaran mutlak yang tidak bisa dicapai oleh akal manusia semata.
B. Akal
Pengertian secara bahasa, 'aqal (عَقْل) berarti "mengikat" atau "menahan". Mencegah seseorang dari tindakan jahat/bodoh.
Secara istilah, akal adalah daya pikir, alat pertimbangan, dan potensi rohani pada manusia untuk memahami, membedakan antara yang baik dan buruk, serta mengambil pelajaran.
Kedudukan akal sebagai alat penerima dan pemaham wahyu, sekaligus pengendali hawa nafsu. Tanpa bimbingan wahyu, akal dapat terkecoh oleh pemikiran semata atau dimanipulasi oleh hawa nafsu.
C. Hawa Nafsu
Secara bahasa, nafs berarti jiwa atau diri. Sedangkan hawa berarti kecenderungan.
Hawa nafsu adalah dorongan alami dalam diri manusia yang cenderung menginginkan kenikmatan, kesenangan fisik, dan pemenuhan keinginan tanpa memedulikan aturan.
Kedudukan nafsu tidak sepenuhnya buruk karena diperlukan untuk kelangsungan hidup, seperti dorongan makan, minum, dan berkembang biak. Namun, jika tidak dikendalikan oleh akal dan wahyu, nafsu akan membawa manusia pada kerusakan dan keburukan.
Oleh: Cahaya Pena.
Sumber: Abu Umar Abdillah. Muslim Juara. Penerbit Muslim Juara Publising.

